Berita Sekolah YBHK
- ENAM PULUH TUJUH RIBU RUPIAH
- Agenda Kegiatan Kelas 9 Tahun 2012
- Sinterklas di TK Tarsisius 2 - 16 Desember 2011
- Sinterklas di TK Tarsisius 2 - 16 Desember 2011
- Classmeeting SMP Tarsisius 2 - 15 Desember 2011
- Congratulation To “Teachers Of The Year 2011” Pilihan Siswa/i SMA Tarsisius Vireta
- Kegiatan Siswa SD Damai
- KBM SMA Damai
- Gedung Sekolah Damai
Try-OutT Menjelang Ujian Akhir Nasional, Apa Makna?
A great leader takes people where they dont necessarily want to go but ought to be. (Rosalynn Carter)
ABSTRAK
Pada bulan Januari-Februari sekolah melakukan Try-out Ujian Nasional sebagai sebuah conditioning. KTPS 2006 mengintroduksi norma Penilaian Acuan Patokan (PAP) untuk hasil (ketuntasan) belajar. Sementara untuk Ujian Nasional (UN), hasil belajar dinyatakan dalam standar nilai 1.0 10.0 (Stanten) memanfaatkan Penilaian Acuan Norma (PAN). Pelaksanaan Try-out, dan penerapan PAN dan PAP sering membuat gerah. Kata kunci: Remedial Teaching. Kelemahan Instrumental, Kelemahan Kontekstual, Ilmu Membuat Besi Jadi Emas.
1.Try-out and Enrichment
Kesebelasan Indonesia yang dipersiapkan untuk pertandingan regional atau internasional, terlebih dahulu berlatih memperdalam ilmu persepakbolaan di sebuah Training Center (TC). Pendalaman (Enrichment) begitu pentingnya sehingga TC untuk sementara bisa dipindahkan ke Negara Ronaldinho Brasil atau van Niestel Roy -Belanda seperti yang dilakukan PSSI. Menjelang turun laga, mereka melakukan Try-out (uji-coba). Tujuan dari Try-out terutama untuk menguji keunggulan strategi, ketahanan fisik dan mental, serta keterampilan mengolah si kulit bundar --bola. Try-out menjelang turun laga lantas terfokus pada Remedial Coaching untuk memperbaiki kesalahan-kelemahan tim dan individu. Dengan model desain ini diharapkan instink trio penyerang untuk menciptakan gol dipertajam, ausdauer ketahanan fisik dan mental menghadapi serangan balik ditingkatkan. Pendalaman (Enrichment) ilmu persepakbolaan sudah dilaksanakan jauh sebelumnya di Brasil atau di Belanda; bukan pada saat Try-out.
2.Penilaian Hasil Belajar
Untuk mengkonservasi skor mentah pada try-out, ulangan, atau ujian menjadi nilai akhir (nilai jadi) dalam skala nilai 1.0 10.0 (Stantent), menurut Woodworth (1961;28) dapat digunakan dua jenis norma yakni norma relatif atau Penilaian Acuan Norma (PAN) dan norma absolut atau Penilaian Acuan Patokan (PAP).
2.1 Penilaian Acuan Norma (PAN)
PAN yang membandingkan prestasi siswa dengan kelompoknya, berkiblat pada MEAN dan Standar Deviasi (SD). MEAN amat bergantung pada frekuensi nilai tertinggi dan nilai terendah dalam kelompok. Standar Deviasi (SD) tergayut erat pada besaran MEAN, Frekuensi nilai tertinggi dan nilai terendah serta kepiawaian menerapkan prosedur perhitungan statistik. Karena itu skor mentah (gain score) 60 pada PPKN dan Matematika bisa sangat berbeda nilai akhirnya bilamana dikonversi ke stanten 1.0 10.0. Prosedur statistik ini masih amat merepotkan banyak guru yang lebih familier menghitung hasil ulangan secara manual. Pada hal PAN sangat efektif dan efisien bilamana guru melek teknologi computer (CMI).
2.2 Penilaian Acuan Patokan (PAP)
PAP yang berdasarkan Persentase/Skor Mentah lebih sederhana dan mudah, digunakan dalam KTSP untuk menentukan Ketuntasan Belajar (mastery learning). Skor Ideal dan Skor/Persentase/Nilai Minimal (pasing score) ketuntasan belajar ditetapkan terlebih dahulu oleh Guru/Sekolah. Karena patokannya sudah ditetapkan, maka PAP bersikap absolut. Setiap siswa harus mencapai Skor/Persentase/Nilai Minimal tersebut! Gain Score/Skor Real yang sama belum tentu menjadi Nilai Akhir yang sama bilamana dikonversi. Semua masih tergantung pada Skor Mentah Maksimal (Maximal Raw Score) yang ditentukan. Menerapkan PAN dan PAP harus benar agar tidak menghasilkan kebohongan publik yang amat merugikan siswa dan orangtua.
3.Eh Do Do Eh, Salah Kaprah
Sekolah memanfaatkan paruh kedua tahun ajaran (Januari-Februari) untuk melakukan Try-out Ujian Nasional (UN) bagi semua kandidat UN, siswa kelas VI SD, IX SMP, dan XII SMA/SMK. Aktivitas ini tidak beda-beda amat dengan persepakbolaan di atas. Setelah mengikuti pembelajaran pada paruh pertama tahun ajaran, pada bulan Januari-Fabruari mereka menjalani Try-out UN. Tujuan aktivitas ini adalah mendeteksi kesalahan dan kelemahan semua peserta dan guru. Kelemahan dan kekurangan tersebut lalu dipoles dalam sebuah Remidial Teaching seperti Remidial Coaching pada persepakbolaan.
Pendalaman materi pada waktu sesingkat bulan Januari dan Februari sangat tidak efektif! Pendalaman (Enrichment) sudah harus dilakukan jauh sebelumnya pada paruh pertama tahun ajaran. Itu pun hanya untuk mereka yang cepat belajar (fast-learner). Begitulah makna leksikon yang benar dari Enrichment menurut didaktik-metodik. Mengkaitkan pendalaman materi dengan program Try-out UN pada sesingkat Januari-Fabruari, hanya buang waktu, boros tenaga, habis dana, tidak punya makna. Eh do do eh, salah kaprah!
4.Kelemahan dalam Try-out UN
Ujian Nasional termasuk rumpun Paper and Pencil Test. Karena itu kelemahan bisa pada Instrumen (Kelemahan Instrumental), dan bisa pula pada Konteks (Kelemahan Kontekstual).
4.1 Kelemahan Instrumental (eksternal) berkaitan dengan alat yang digunakan untuk menulis jawaban. Menurut pengalaman penulis, jawaban pada Lembar Jawaban Komputer, perlu diperhatikan peralatan dan cara membulatkan lingkaran jawaban di atas kertas computer. Beberapa siswa pintar pada Try-out EBTANAS se-YBHK tahun 1993 mendapat nilai rendah, karena lembar jawaban mereka tidak bisa dibaca oleh mesin koreksi komputerisasi YBHK. Sebaliknya koreksi pada lembar jawaban manual yang ditinggalkan di sekolah, menghasilkan nilai tinggi. Pengalaman tersebut kemudian menimpa banyak siswa pintar di beberapa daerah luar Jawa pada EBTANAS. Mereka menjadi tumbal untuk penggunaan teknologi komputerisasi EBTANAS. Lembar jawaban Komputer yang kotor, basah terkena keringat, lecek, jenis pensil tidak sesuai, kurang hitam, berlubang, dan penggunaan karet penghapus secara berlebihan adalah kelemahan instrumental yang perlu diantisipasi.
4.2 kelemahan Kontekstual (internal) tergayut dengan kemampuan siswa yang diuji dalam konteks materi UN. Paper and Pencil Test amat mengandalkan kemampuan verbal (bahasa) dan kemampuan logika berfikir dan berbahasa. Mereka yang cepat menangkap makna, jeli melihat hubungan antara obyek, serta terampil menyimak, akan mudah mengerjakan soal-soal UN. Kelemahan kontekstual atau internal ini biasanya berkaitan dengan ragam pengetahuan konsepsi, prinsip, prosedur, fakta, atau metakognisi. (Anderson & Krathwolhl, 2001;27-34).
5.Kupas Tuntas, Tas Taass
Kelemahan Instrumental yang eksternal, masih mudah diatasi oleh sekolah dan siswa. Yang perlu diperhatikan adalah Kelemahan Kontekstual yang bersifat internal. Materi Try-out UN cukup banyak dan luas pula, maka tidak heran bilamana ada beberapa materi/kompetensi yang sudah tuntas di waktu lalu (di kelas bawah) terlupakan atau melemah jaringan sarbond-nya. Try-out UN pada bulan Januari-Februari mestinya lebih difungsikan untuk memperbaiki kelemahan/kesalahan seperti pada Try-out klub sepakbola di atas. Lebih perlu menelaah ragam pengetahuan yang masih menjadi kelemahan. Dengan demikian perhatian para kandidat UN/Guru jadi terfokus.
Visi dari Try-out (Uji-coba) UN adalah siswa terlatih jadi bisa /terampil/mahir memberi jawaban secara benar dan cepat! Karena Kelemahan Kontekstual ada dalam atau inherent dengan butir soal Try-out, maka jawaban yang salah harus yang pertama dibenahi. Jawaban salah itu pasti disebabkan oleh atau berkaitan dengan konsepsi yang salah, prinsip yang kabur, prosedur yang sesat, mnemonik faktual yang terlupa, atau metakognisi yang belum jelas. Varian Kelemahan Kontekstual ini mesti cepat dibenahi melalui proses didaktik-metodik Remedial yang berkiblat pada pendekatan proses (Process Approach). Pendekatan ini mencakup aktivitas inti Core 2 Duo, yakni Re-Teaching oleh Guru dan Re-Learning oleh siswa, di mana soal-soal yang dijawab salah harus dikupas sampai tuntas, tas tassss!
6.Dosa Tidak Terampuni
Komitmen yang kuat untuk membantu semua kandidat UN di kelas VI SD, kelas IX SMP, dan kelas XII SMA, serta meningkatkan citra sekolah di mata stakeholders, khususnya orangtua dan masyarakat mikro lingkungan sekolah, kiranya menjadi alasan yang cukup kuat (causa suficienens) untuk mengisi waktu sesingkat bulan Januari-Fabruari dengan program Remedial Teaching for All pasca Try-out. Uji-coba/Pelatihan UN harus diabdikan untuk mempersiapkan semua kandidat UN, dan bukan untuk mengumpulkan banyak nilai yang tidak punya nilai feedback bagi siswa dan guru. Juga tidak untuk pendalaman materi (Enrichment) yang hanya cocok untuk segelintir siswa cerdas yang cepat-belajar. Itu dasar akuntabilitas mendahulukan Try-out.
Maka Uji-coba/Pelatihan UN sebagai conditioning untuk mempersiapkan semua kandidat/siswa menghadapi Ujian Nasional yang kian mendekat tanpa Remedial-Teaching adalah tindakan melawan hakekat dan tujuan aktivitas dari Try-out UN. Ini dosa yang tidak bakal terampuni oleh alumni. Sungguh mati!
7.Ilmu Membuat Besi Jadi Emas
Desain Remedial Teaching for All Pasca Try-out atau mendahulukan Try-out UN ibarat Trisula tombak bermata tiga. Mata pertama, menciptakan suatu kondisi belajar (Learning Condition) yang sangat kondusif bagi semua siswa, seperti diuraikan di atas. Mata kedua, intensitas perhatian Guru/Sekolah terhadap para kandidat UN/Siswa menjadi rumor, digosipin jadi buah bibir para orangtua/masyarakat mikro lingkungan, yang sangat berharap anaknya lulus UN. Harapan ini tidak bisa ditawar. Mata ketiga, mendongkrak citra sekolah tanpa perlu tulisan promotif advertorial, karena informasi antarsesama pembahasa-tutur (teristimewa ibu-ibu), sungguh mati, bukan main cepat merayap dan luas menyebarnya. Orangtua/masyarakat selalu lebih percaya pada rumor empiris-kontekstual di sekolah via getok tular.
Desain dan performa sekolah model ini bisa diringkas pas sebagai Ilmu Membuat Besi Jadi Emas. Eits, tunggu apa lagi? Coba daaah tahun ini!
*Penulis adalah Alumnus Pascasarjana UI Salemba/aktivis di beberapa lembaga pendidikan (diantaranya YBHK)
- Artikel:
Copyright © 2012 Yayasan Bunda Hati Kudus. Hak cipta dilindungi undang-undang. Aturan Akses
