Skip to content

Kuliah sebagai Sarana untuk Sukses?

-
Penulis: 
Joko Suhartono

Ujian Nasional untuk tingkat SMA saat ini sedang berlangsung. Walaupun masih kontroversi tetapi Ujian Nasional yang sekarang dianggap lebih masuk akal bagi banyak orang karena ada mekanisme ujian ulang bagi siswa yang tidak lulus. Dan kalau masih tidak lulus juga maka siswa pun masih dapat lulus melalui ujian persamaan yang digelar pada sekitar bulan-bulan Juni.

Dan kalau masih tidak lulus juga….ya…mungkin mereka memang tidak layak lulus SMA alias kerjanya selama 3 tahun di SMA cuman maen, hura-hura atau malah pacaran melulu. Na…yang bikin saya gak setuju dengan UN adalah sikap banyak orang yang begitu mendewa-dewakan ujian kelulusan SMA itu sebagai sesuatu yang begitu besar alias ’final match’…padahal setelah kelulusan SMA itu, para remaja itu harus sudah menentukan masa depannya…yakni mau langsung kerja (yang semakin sulit menampung lulusan SMA) atau memilih untuk kuliah.

Kuliah bagi banyak orang seringkali dianggap sebagai buang-buang duit saja. Alasannya, kuliah sering tidak menjamin nasib seseorang mendapatkan pekerjaan yang layak bagi penghidupannya. Apalagi banyak contoh orang sukses di negeri ini yang tidak melalui jalur kuliah. Belum lagi mitos bahwa Universitas di negeri ini, baik negeri maupun swasta, sebagian besar masih merupakan ‘menara gadhing’ alias masih saja berkutat dengan teori-teori usang hingga sukar mencetak sarjana siap pakai alias hanya mampu mencetak sarjana siap latih.

Anomali dengan itu, kuliah di jaman sekarang juga semakin mahal ples banyak jalur tanpa tes yang dapat ditembus seorang yang kaya untuk dapat berkuliah di sebuah jurusan di hampir semua universitas. Tentu saja dengan membayar sejumlah uang tertentu. Sebagai contoh saja, dengan membayar 300 juta Anda bisa mendudukkan anak Anda di Fakultas Kedokteran di universitas manapun di Indonesia (heran juga ngelihat para orang tua di negeri ini yang masih memandang fakultas kedokteran sebagai jurusan yang paling favorit. Emang setelah lulus jadi dokter…nyari duit dari dokter gampang…?! Gampang sih kalo mereka mau kerja di luar Jawa yang dokternya dikit…kalo di Jawa sih dokter sudah kudu saingan sama para dukun pengobatan alternatif dengan kosep ‘back to nature’ nya yang saat ini sedang populer). Kondis-kondisi itu yang bikin pilihan untuk berkuliah selepas SMA menjadi diragukan buat menempuh kesuksesan dalam kehidupan di masa mendatang. 

Bagi saya sendiri, kuliah bukanlah satu-satunya ajang untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat buat masa depan. Kalau masalah ilmu atau ketrampilan sih bisa dipelajari dari mana saja tanpa perlu harus menempuh kuliah. Walau demikian, saya tetap meyakini bahwa kuliah adalah jalur paling masuk akal untuk bisa sukses. Kampus memang bukan satu-satunya tempat untuk mencari ilmu, tetapi saya memandang kuliah di suatu kampus akan memberikan dampak sosial bagi anak-anak muda. Bagi saya kampus atau kuliah lebih merupakan suatu proses sosial daripada menuntut ilmunya itu sendiri. Kampus akan memberikan lingkungan yang ilmiah, rasional, sekaligus ajang berlatih dalam pengambilan suatu keputusan. Dan itulah sebenarnya yang lebih penting yang didapat dari kampus daripada ilmunya itu sendiri. Proses sosial demikian itulah yang mungkin dibutuhkan untuk mendewasakan cara berfikir anak-anak muda pasca SMA.

Yang lebih penting dari itu, kampus pastilah penuh dengan impian-impian manusia yang ada didalamnya. Harapannya jelas, impian itu akan menular pada anak-anak yang ada didalamnya. Diskusi-diskusi yang dilakukan para anak-anak muda itu akan membuat mereka menemukan impian-impian mudanya dalam menempuh masa depan. Minimal akan membikin mereka menemukan suatu harapan atau sebuah keajaiban yang lebih masuk akal daripada ‘jalur-jalur cepat’ kesuksesan yang mudah hilang semudah cara mendapatkannya. Intinya adalah dengan kuliah seorang muda akan berani untuk bermimpi tentang masa depannya. Mimpi yang rasional tentunya. Dan bukan bermimpi fantasi yang malah menyesatkan.

Walau demikian, para orang tua juga tetap harus memantau perkembangan sekaligus pergaulan anak-anaknya selama kuliah, karena kuliah atau kampus juga penuh dengan efek negatif terkait dengan hobi para muda yang suka mencoba hal-hal baru. Yang penting para orang tua harus yakin dulu  dengan manfaat kuliah. Soalnya kalo orang tuanya dukung setengah-setengah terhadap kuliah anaknya maka anaknya pun akan kuliah dengan setengah-setengah pula. Soalnya seperti laiknya sarana lain di dunia ini, kuliah pun pasti ada dampak negatifnya disamping sisi positifnya. Tinggal bagaimana kita memilih memanfaatkan sisi yang mana.

Direktori

| " | A | B | C | D | E | F | G | H | I | K | L | M | O | P | R | S | T | U | V | W | Y
glqxz9283 sfy39587p06