Customer Satisfaction VS God Satisfaction
Buku : 8 Etos Kerja Profesional, Oleh Jansen Sinamo
Intinya , kita hidup untuk tujuan ilahi, kita berkeluarga untuk tuuan ilahi juga. Kita bekerja untuk sebuah tujuan tujuan ilahi. Bahkan apa saja pun yang kita perbuat seyogyanya harus dalam rangka memenuhi tujuan-tujuan ilahi. Pada tingkat ini tidak-dapat-tidak kita harus belajar tentang Tuhan, sebab tanpa mengerti Tuhan, betapapun sempitnya pemahaman kita tentang diri-Nya, mustahillah kita memahami panggilan beribadah di dalam dan melalui pekerjaan kita.
Pemahaman tentang Tuhan, sifat-sifat-Nya, keinginan-Nya,maksud-Nya hanya bisa kita peroleh melaui pendalaman agama. Intinya, Tuhan diajarkan sebagai Sang Mahabaik, Sang Maha Pengasih, Sang Maha Penyayang, dan Sang Mahakuasa.
Dari sini kita dapat menemukan kehendak Tuhan, paling tidak, keinginan Tuhan supaya kita sejahtera, supaya manusia mengalami kedamaian, supaya umat manusia bersatu. Keinginan Tuhan-lah agar manusia bertumbuh dalam sifat yang ilahi, agar bumi kita pelihara, agar sesama manusia cinta-mencintai, kasih-mengasihi , dan sayang-meyanyangi.
Konskuensi logisnya, melaui pekerjaan kehendak Tuhan kita wujudkan, yaitu bahwa melaui pekerjaan, kita bertumbuh dan berkembang menjadi manusia yang kualitas kepribadiannya , karakternya, dan mentalnya berkembang kea rah yang ilahi. Itu yang pertama. Kedua , agar melalui pekerjaan kita dapat meningkatkan hubungan silaturahmi yang saling mengasihi dan menyayangi; agar melalui pekerjaan kita dapat membangun persatuan kesatuan antar-manusia; agar melalui pekerjaan kita menghasilkan kemakmuran, kesejahtraan, dan kebahagiaan.
Kesadaran ini membuat kita bekerja sebaik-baiknya, mencapai mutu setinggi mungkin, tidak hanya memuaskan manusia tetapi juga memuaskan hati Tuhan. Tidak hanya customer satisfaction tetapi juga God satisfaction . Di sini pekerjaan menjadi bersifat transendental, pekerjaan tidak lagi sekadar berbobot finansial-manejerial, tetapi melampaui semua itu, mengungguli semua itu.
Ketika kita sampai pada tingkat kesadaran ini, bahwa kita dipanggil oleh-Nya , diajak sebagai mitra-Nya , maka dengan sendirinya kita memiliki nilai untuk misi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang berkaitan dengan berbagai rencana besar Tuhan. Kesadaran seperti ini, tidak bisa tidak, akan menimbulkan motivasi kerja yang besar.
Inilah yang kita pelajari dari kisah pemahat Yunani kuno yang dapat menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengukir puncak tiang yang sebenarnya tidak terlihat lagi dari bawah saking tingginya. Keindahan ukiran di puncak tiang itu tidak dapat lagi dinikmati orang. Tetapi ketika sang pengukir ditanya, untuk apa mengukir puncak tiang begitu bagusnya padahal tidak dapat dinikmati lagi, sang pengukir menjawab, “ Memang manusia tidak dapat melihatnya, tetapi Tuhan melihat dan menikmatinya.”
Motivasi kerja sang pemahat telah berubah menjadi motivasi transendental . tidak hanya memuaskan manusia tetapi juga berkehendak Tuhan. Pada level pengertian demikian inilah kita dapat bekerja dengan modus pengabdian penuh sukacita dan rasa cinta. Kita pun sanggup bekerja dengan penuh antusias karena makna pekerjaaan kita demikian mendalam. Pekerjaan pun tidak lagi membosankan.
Bandingkan dengan orang yang bekerja dengan terpaksa demi sesuap nasi. Mereka bekerja setengah hati. Pekerjaan menjadi penderitaan. Pekerjaan menjadi sepi makna. Pekerjaaan itu mengalami degradasi makna, dan karena itu juga mendegradasikan manusia. Maka pekerjaan pun tidak lagi manusiawi.
