" Pengantin Baru Sudah Bertengkar "

Avatar Biro Personalia
Penulis: 
A.Monang Damanik

Jansen H.Sinamo dan Hendri Bun

Buku : Kafe Etos Vol.1

Lewat tengah malam, segerombolan perampok mulai beraksi. Setelah berkeliling desa  mendapati sebuah rumah dengan pintu seperempat terbuka. Aha…! Ini mangsa yang tak boleh dilewatkan.

Saat masuk, mereka melihat banyak sekali kado. Wah, rupanya di rumah ini baru saja ada pesta besar, demikian pikir mereka. Tak mau berlama-lama , mereka  pun  mulai bekerja. Kado-kado berikut televisi dan kipas angin yang ada di ruang tamu langsung mereka gotong. Dari ruang makan , kulkas dan peralatan masak yang masih baru-baru habis mereka gasak.

Ketika masuk ke kamar, mereka tercengang. Terpampang jelas sosok sepasang manusia sedang berbaring saling memunggungi. Tapi kok diam kayak patung, tidak bergerak sama sekali. Sipa mereka ? Apakah mereka pemilik rumah ? Saat pandangan mereka berkeliling , terlihat baju pengantin. Mereka baru sadar , rupanya ini rumah pengantin baru. . karena berpacu dengan waktu , gerombolan ini beraksi tanpa mempedulikan keduanya. Baju pengantin , kotak perhiasan , dan perkakas lain tandas disikat.

Kisah ini dimulai pagi tadi : Sepasang kekasih menikah di depan penghulu. Pesta besar pun berlangsung , suasana begitu meriah. Tamu-tamu berdatangan, mereka makan, minum, menari, bergerimba merayakan sukacita besar ini.

Malam pun tiba . Tetamu sudah pulang.Tinggalah kedua pengantin . karena berpesta seharian, mereka kelelahan, mereka memasuki kamar , lalu naik ke ranjang.

Belum apa-apa, terdengar derit pintu depan tertiup angin. Si suami ingat, pintu memang belum ditutup. Berkatalah ia “ Sayang pintu depan belum dikunci.Turun dong sebentar, dan tutup pintunya.”

Tetapi istrinya menjawab “ Kau gimana sih , aku ‘kan capek , kamu aja yang turun.”

“ Kamu istri apaan sih ? Baru beberapa jam jadi istriku, sudah berani berani membantah. Emangnya kamu siapa, hah ? Cepat tutup pintunya, “ balas si suami dengan suara tinggi.

Si istri tak mau kalah dan kasar ia menyembur , “Sialan kamu, baru berapa jam jadi suamiku, sudah kayak raja memerintah seenak perut , membentak-bentak lagi. Emangnya aku budakmu, apa ?

Mereka pun bertengkar panjang sambil mempertahankan argumentasi masing-masing , siapa yang seharusnya menutup pintu.

Tak tahan, akhirnya si suami berkata, “ suda, sudah, capek. Begini aja : kita saling diam , dan siapa yang duluan ngomong, dia harus menutup pintu.”

Mereka berdua pun menutup mulut rapat-rapat. Mereka pura-pura tidur, namun  sebenarnya keduanya tidak bisa tidur karena saling mengintip, saling menunggu , siapakah yang bakal kalah dalam pertarungan ego ini.

Ketika perampok itu sudah pergi agak jauh, si istri  tidak tahan lagi lalu menyemburkan makian penuh  amarah, “ Lelaki guoooblooook! Kamu gimana siiih? Sudah tahu rumah dirampok, masih diam kayak bangkeee!”

Tetapi si suami menjawab tenang dengan perasaan puas, “Haaaaa, aku menang! Sekarang , kamu turun! Tutup pintunya.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari cerita ini. Namun satu aspek saja yang ingin saya samp[aikan : maulah sedikit repot, turun tangan mengerjakan tugas-tugas yang patut dikerjakan, dsan jangan lah saling melempar tanggung jawab.

Ketika pengantin malang tersebut berjanji sehidup-semati, pasti tidak ada kontrak yang berisi  job description  yang rinci : siapa harus menutup jendela, menbgunci pintu, mengambil air, melipat selimut, memasak nasi, dan berbagai tugas rumah tangga lainnya.

Tetapi keduanya kebetulan pemalas dan suka melempar tanggung jawab, dalam kelelahan mereka, masing-masing mengharapkan pasanganyalah yang seharusnya  mengerjakan ini dan itu. Tak terhindarkan  , kejadian tragis di atas pun terjadi. Bukan Cuma itu, seluruh kebahagiaan mereka sebagai pengantin baru lenyap begitu saja.

***

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari cerita ini. Namun satu aspek saja yang ingin saya samp[aikan : maulah sedikit repot, turun tangan mengerjakan tugas-tugas yang patut dikerjakan, dsan jangan lah saling melempar tanggung jawab.

Ketika pengantin malang tersebut berjanji sehidup-semati, pasti tidak ada kontrak yang berisi  job description  yang rinci : siapa harus menutup jendela, menbgunci pintu, mengambil air, melipat selimut, memasak nasi, dan bernagai tugas rumah tangga lainnya.

Tetapi keduanya kebetulan pemalas dan suka melempar tanggung jawab, dalam kelelahan mereka, masing-masing mengharapkan pasanganyalah yang seharusnya  mengerjakan ini dan itu. Tak terhindarkan  , kejadian tragis di atas pun terjadi. Bukan Cuma itu , seluruh kebahagiaan mereka sebagai pengantin baru lenyap begitu saja.

Di kantor, banyak  sekali hal yang tidak dirumuskan dalam job description  kita. Namun bila ada pekerjaan  yang mendadak  muncul – padahal kita tahu jika tidak segera dikerjakan  akan menimbulkan kerugian atau bahaya bagi perusahaan – maka wajiblah kita mengerjakannya  tanpa harus berharap  apa imbalannya, berapa honornya, atau bagaimana  uang lemburnya. Kita mengerjakannya hanya karena rasa tanggung jawab , rasa peduli. Sebagai warga organisasi, kita turut menjadi pemilik, sedikitnya , harus ada rasa memiliki, rasa yang muncul karena kita diserahi amanah menjaga organisasi. Amanah mengharuskan kita bertanggung jawab.