Jumat, 18 Agustus 2017
Home / Artikel / Spiritualitas Hati Dalam Lingkup YBHK
Romo A. Wensy Wowor, MSC
Romo A. Wensy Wowor, MSC (Anggota Pengurus YBHK)

Spiritualitas Hati Dalam Lingkup YBHK

Spiritualiatas Hati menjadi suatu ‘sofware’ dan syarat mendasar bagi setiap warga YBHK (Yayasan Bunda Hati Kudus, selanjutnya disebut Yayasan). Sebab Spiritualitas Hati adalah salah satu unsur fundamental dan integral dalam filosofi Rumah Pendidikan Yayasan yang musti dihayati dalam satu kesatuan dengan visi, misi dan nilai-nilai institusionalnya. Lembaga ini percaya dan meyakini bahwa jika Spiritualitas Hati ini dipahami dan dihayati dengan baik dan benar maka Kurikulum Nasional Berbasis Multi Talenta (KNBMT) akan menjadi jawaban atas kebutuhan dunia pendidikan dasar dan menengah sekarang dan di masa yang akan datang.

Dalam Rumah Pendidikan ini Spiritualitas Hati menjadi starting point yang mendorong dinamika dan implementasi Kurikulum Khas Yayasan ini. Sebagai jawaban istimewa bagi setiap insan pencari pengetahuan dan pribadi yang bertekad sukses, produk pelayanan pendidikan ini ditawarkan secara berjenjang melalui sekolah-sekolah Yayasan yang berada di Jakarta, Tangerang dan Semarang.

Paham Spiritualitas Hati
Apa itu Spiritualitas Hati? Secara singkat, Spiritualitas Hati berarti hidup menurut semangat, teladan dan ajaran Yesus Kristus. Dengan demikian sangatlah jelas bahwa sifat Spiritualitas Hati amat kristiani dan patut menjadi cara hidup para pengikut Yesus Kristus. Dalam lingkup YBHK, paham Spiritualitas Hati tak pernah terlepas dari konteks historis dan religius para pendiri (founding fathers) Yayasan ini. Penghayatan Spiritualitas Hati dari para pendahulu ini berasal dari Tarekat Para Misionaris Hati Kudus Yesus (Missionarii Sacratissimi Cordis Iesu) atau yang lebih dikenal dengan Para Misionaris MSC baik para imam maupun para brudernya. Paham Spiritualtias Hati selalu berangkat dari perspektif pendiri Tarekat MSC, yaitu Pater Jules Chevalier (1824-1907) dalam memandang, memahami dan menghayati Hati Yesus sebagai Sang Raja Cinta dan Bunda Maria sebagai Bunda Hati Kudus atau Bunda Yesus Kristus. Hati Yesus yang tertikam itu mengeluarkan darah dan air dan lalu menjadi hati baru, new heart (Yoh. 19: 34, 37), dan hati Bunda Maria sebagai Bunda Hati Kudus yang rela mengandung dan melahirkan Puteranya serta setia mendampingi puteranya sampai di kaki salib.

Di sana Yesus dan Bunda-Nya tiba pada pengalaman manusiawi sekaligus ilahi yang sangat istimewa dan sangat mendalam. Yesus memandang Ibu-Nya dan menyerahkannya diri-Nya kepada kehendak Bapa-Nya. Demikian juga Bunda-Nya memandang Dia yang telah mereka tikam dan mengikuti kehenda Allah yang sama. Baik Yesus maupun Bunda Hati Kudus percaya pada penyelenggaraan ilahi Allah Bapa.

Istilah Spiritualitas Hati mengungkapkan visi dan misi yang mau diwariskan oleh Pater Chevalier kepada tarekat-tarekatnya dan melalui tarekat-tarekatnya itu kepada siapa saja. Visinya memberi inspirasi dan motivasi kepada para pengikutnya dan mitra-mitranya bahwa “dari Hati Yesus yang tertikam di atas bukit Kalvari, Chevalier melihat kelahiran dunia baru, yang luas permai, yang diilhami oleh cinta dan belaskasihan, yang memberi hidup kepada seluruh bangsa manusia. Dunia itu harus dilestarikan oleh Gereja di seluruh muka bumi”.

Visi yang seluas itu mustahil dijalankan oleh sekolompok religius. Menurut Pater Chevalier, pelaksanaan visi itu dipercayakan kepada seluruh Gereja. Para anggota tarekat-tarekatnya harus bekerja sama dengan para mitra, rohaniwan-rohaniwati, biarawan-biarawati, imam-imam lain dan para awam untuk bersama-sama ikut ambil bagian dalam membangun budaya cinta yang diimpikan oleh Pater Chevalier yang berkontemplasi menegenai kekayaan Hati Yesus.

Pater Chevalier lalu mewariskan kepada para anggota tarekat-tarekatnya 4 (empat) nilai utama, yaitu:

  1. Rasa prihatin (concern) mendalam mengenai penderitaan dan pergumulan manusia dan masyarakat.
  2. Kepercayaan akan cinta Allah Bapa yang begitu prihatin atas derita manusia dan dunia ini sehingga Dia mengutus Putera-Nya.
  3. Panggilan mengikuti Yesus yang mencintai dengan hati manusiawi.
  4. Misi atau tekad untuk memberi kesaksian dalam hidup dan karya bahwa kepercayaan akan kuasa cinta Allah Bapa itu menyembuhkan penyakit-penyakit zaman dan membebaskan orang dari ketakutan dan acuh tak acuh.

Inti Spiritualitas Hati itu secara bilblis tertulis dalam Yohanes 3: 16: “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah menganugerahkan Putera-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. Sebab Allah mengutus Putera-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Gerakan cinta-kasih itu berawal dari Allah Bapa yang demikian prihatin terhadap bangsa manusia sehingga Dia mengambil inisiatif untuk mengutus Putera-Nya. Kedatangan Putera-Nya itu membangkitkan dalam hati manusia suatu kepercayaan yang memberi hidup yang kekal. Cinta-kasih Allah Bapa itu hidup juga dalam hati kita, sebab “kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dicurahkan kepada kita” (Roma 5:5).

Karena itu dalam Tarekat MSC, Spiritualitas Hati senantiasa dipahami sebagai suatu semangat hidup (spirit of life) dan cara hidup (way of life) menurut hati sebagaimana dialami dan ditelandankan oleh Yesus dan Bunda Maria. Pemahaman ini mengekspresikan nilai-nilai spiritual-kristiani, yaitu pengorbanan dan perjuangan tanpa pamrih, ketulusan dan kesetiaan yang abadi, pengharapan yang teguh, keyakinan dan kepercayaan akan kasih Allah yang tiada taranya dalam hidup manusia.

Nilai-nilai ini secara khusus dan mendalam dihayati oleh para misionaris Tarekat MSC (dan juga tarekat-tarekat, kongregasi-kongregasi dan ordo-ordo lain) dalam tiga nasehat injili yang dikenal dengan tiga kaul: Ketaatan, Kemurnian dan Kemiskinan. Kaul ketaatan menegaskan kesetiaan Yesus pada kehendak Bapa-Nya, sehingga Yesus taat sampai wafat di salib namun dibangkitkan oleh Bapa-Nya pada hari yang ketiga. Kaul kemurnian menegaskan keutuhan dan ketulusan dalam mengasihi Allah dan sesama. Kaul kemiskinan menegaskan ketergantungan pada Allah dan bukan pada manusia dan harta kekayaan dunia dalam hidup ini. Hal serupa nampak dalam hidup dan perjuangan Bunda Hati Kudus.

Spiritualitas Hati bersifat inklusif karena mencakup seluruh hidup dan karya rohani maupun jasmani setiap orang. Dalam diri Yesus dan juga Bunda Hati Kudus, Spiritualitas Hati menjadi sempurna. Sebab Spiritualitas Hati berfokus pada inti kepribadian Yesus sebagaimana nampak dalam perkataan dan perbuatan-Nya sebagaimana termuat dalam Injil (Kitab Suci): apa yang diprihatinkan, dipilih, ditentang dan diputuskan-Nya. Spiritualitas Hati memandang Yesus dalam gerakan-gerakan hati-Nya yang ilahi dan manusiawi. Yesus dipandang sebagai Putera Allah Bapa yang menjelma menjadi manusia sampai berakhir pada kematian sebagai konsekuensinya. Spiritualitas Hati mengarahkan perhatian pada pribadi Yesus yang serentak mewahyukan hati Allah dan hati manusia.

Spiritualitas Hati: Obat Bersama Penyembuh Penyakit-Penyakit Zaman
Spiritualitas Hati bukanlah milik Tarekat MSC saja, tetapi menjadi milik semua orang yang menghayati Spiritualitas Hati. Pada abad XX, ada juga pengarang-pengarang rohani yang telah mengembangkan pelbagai cara hidup (“spiritualitas hati”). Namun pada awal abad XXI kesaksian para anggota Tarekat MSC tentang Spiritualitas Hati menjadi anugerah paling berharga yang dapat disumbangkan oleh Tarekat MSC kepada Gereja dan masyarakat.

Spiritualitas Hati tidak saja pantas didialogkan satu sama lain melalui pewartaan namun lebih dari itu Spiritualitas Hati menjadi kesaksian hidup yang nyata karena Spiritualitas Hati itu mencari apa yang hidup dan bergerak dalam hati, yakni inti kepribadian dari Allah, Yesus, sesama, dunia dan diri kita sendiri. Gerakan-gerakan hati itu antara lain adalah cita-cita, kehendak, keinginan, kecemasan, keprihatinan dan kebutuhan-kebutuhan riil. Namun Spiritualitas Hati lebih berfokus pada keprihatinan-keprihatian (concerns) atas penyakit-penyakita zaman (Le Mal du Siecle) yang berakibat pada acuh tak acuh pada sesama yang lemah, miskin, menderita, terpinggirkan dan tak berdaya (the loved ones).

Dengan demikian Spiritualitas Hati mengeritik cara dan semangat hidup: konsumerime dan hedonism, kapitalisme dan liberalism, sekularisme dan pelecehan terhadap martabat manusia. Dalam konteks Indonesia, Spritualitas Hati menjadi obat penyakit-penyakit bangsa dan negara kita seperti: korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), kekerasan, pelecehan seksual, dll.

Kesimpulan
Spiritualitas Hati berkaitan erat dengan gerakan-gerakan hati yang tidak lain adalah gerakan-gerakan keprihatinan fisik-spiritual yang adalah kepedulian terhadap sesama (the loved ones). Gerakan-gerakan ini adalah partisipasi atas keprihatinan Allah sendiri. Oleh karena itu, Spiritualitas Hati sangat dibutuhkan sebagai sarana dan kekuatan hidup untuk membantu sesama di mana saja dan kapan saja sebagaimana Allah telah menaru cinta dan perhatiannya kepada manusia dalam Yesus Kristus. Kebutuhan yang mendesak agar Spiritualitas Hati menjadi suatu kenyataan daripada suatu harapan dan cita-cita adalah kerjasama antar disiplin ilmu dan bersama belajar mengosongkan diri seperti Yesus (Filipi 2). Dengan demikian, Spiritualitas Hati dapat berdampak profetis bagi komunitas-komunitas pendidikan formal maupun informal, baik di sekolah, keluarga, Gereja dan masyarakat.

Sebab budaya cinta merupakan pola atau gaya hidup yang memandang penting dan berharganya hidup bersama. Dalam budaya cinta, orang lain tidak dilihat sebagai sarana yang dapat dipakai, melainkan orang lain dipandang sebagai sesama saudara-saudari dan sahabat yang pantas didukung dalam perkembangan hidupnya.

Penutup
Dengan memahami Spiritualitas Hati, setiap warga YBHK dipanggil dan diajak untuk menjadi penabur dan pelaku budaya cinta dalam lingkup komunitas pendidikan formal di sekolah maupun dalam lingkup pendidikan informal di rumah dan lingkungan masyarakat luas demi transformasi hidup bersama secara baru.

Atas cara demikian setiap orang termasuk warga YBHK yang berbudaya cinta akan rela dan ikhlas menyatakan solidaritasnya kepada sesamanya yang sedang menderita, diperlakukan semena-mena dan tak adil. Dia akan berbuat baik tanpa diskriminasi atau pilih kasih. Ia pun menghendaki kebaikan bagi mereka yang berpikir dan bersikap jahat sekalipun. Pada akhirnya ia akan rela berkorban dan memberikan apa saja yang bernilai bagi kehidupan bersama.

  • Terima kasih Romo Wensy atas pencerahannya. Untuk selalu memiliki kerendahan hati yang berpusat pada Allah. Bahwa kasih kepada sesama adalah tentang hati, bukan kehebatan logika. Berkah Dalem.

  • Fransisca Driartanti

    Salam Harmonizing Multitalent ! Terimakasih Pastor Wensy, MSC atas spirit yang mengambil dari Inti Spiritualitas Hati Yesus dengan GERAKAN CINTA – nya. Semoga dengan pencerahan ini mampu menggerakkan hati guru/karyawan sehingga semakin dimampukan untuk melayani dengan penuh cinta dan hati yang tulus sehingga talenta siswa – siswi YBHK berkembang talentanya sampai kondisi yang terbaik.

  • Wensy Warranty

    Berkah dalem. Halo Ibu Tanti dan Mas Eko, apa kabar? Bravo
    dan luar biasa ya? Sudah pasti!!! Saya juga menyampaikan terima kasih karena
    Ibu Tanti dan Mas Eko telah membacanya. Saya percaya bahwa penghayatan
    spiritualitas hati mampu memberikan kontribusi dalam hidup dan karya pelayanan
    kita. Spiritualitas hati menerjemahkan keseimbangan dan harmoni dalam hidup
    kita karena lewat spiritualitas hati kita mendapatkan kesempatan untuk
    “menurunkan” dan mengendapkan segala sesuatu dalam hati kita sebelum
    kita mengambil langkah dan tindakan lanjut apapun. Inilah kebutuhan aktual dan
    riil jaman ini bagi kita semua yang sangat “mobile” khususnya bagi
    para peserta didik kita.

    Dan inilah juga yang dicari oleh orang tua – wali sebagai jawaban atas kebutuhan
    dari putera-puteri mereka yang selama ini lebih banyak berfokus pada “daya
    kerja otak” yang kurang diimbangi dengan “daya kerja hati”. Jika Yayasan
    ini terus-menerus menjawab kebutuhan publik ini, maka saya yakin orang tua –
    wali akan terus menyekolahkan putera-puteri mereka di sekolah-sekolah Yayasan
    ini.

    Inilah salah satu filosofi atau pandangan hidup yang sangat aplikatif bagi kita
    semua sebagai warga Yayasan sehingga sekolah-sekolah Yayasan ini menjadi “MORE THAN SCHOOL” (lebih dari
    sekedar sebuah sekolah) bahkan “making
    you feel at home”.