<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Artikel Archives - Yayasan Bunda Hati Kudus</title>
	<atom:link href="https://www.ybhk.or.id/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.ybhk.or.id/category/artikel/</link>
	<description>YBHK</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Oct 2025 01:36:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>
	<item>
		<title>Generasi Emas 2045: Estafet Semangat Sumpah Pemuda</title>
		<link>https://www.ybhk.or.id/artikel/generasi-emas-2045-estafet-semangat-sumpah-pemuda/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=generasi-emas-2045-estafet-semangat-sumpah-pemuda</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2025 01:12:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bilingual Class]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Katolik]]></category>
		<category><![CDATA[Kelas Bilingual]]></category>
		<category><![CDATA[Kurikulum]]></category>
		<category><![CDATA[PPDB]]></category>
		<category><![CDATA[SD]]></category>
		<category><![CDATA[SMK]]></category>
		<category><![CDATA[spmb]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.ybhk.or.id/?p=4477</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banyak diantara kita yang tak banyak mengetahui tentang kisah seputar peristiwa Soempah Pemoeda yang menjadi cikal bakal keberadaan “Indonesia”. Sebab, sesungguhnya term baku tentang nama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://www.ybhk.or.id/artikel/generasi-emas-2045-estafet-semangat-sumpah-pemuda/">Generasi Emas 2045: Estafet Semangat Sumpah Pemuda</a> appeared first on <a href="https://www.ybhk.or.id">Yayasan Bunda Hati Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://www.ybhk.or.id/wp-content/uploads/2025/10/WhatsApp-Image-2025-10-28-at-08.35.04-1024x576.jpeg" alt="" class="wp-image-4484" srcset="https://www.ybhk.or.id/wp-content/uploads/2025/10/WhatsApp-Image-2025-10-28-at-08.35.04-1024x576.jpeg 1024w, https://www.ybhk.or.id/wp-content/uploads/2025/10/WhatsApp-Image-2025-10-28-at-08.35.04-300x169.jpeg 300w, https://www.ybhk.or.id/wp-content/uploads/2025/10/WhatsApp-Image-2025-10-28-at-08.35.04-768x432.jpeg 768w, https://www.ybhk.or.id/wp-content/uploads/2025/10/WhatsApp-Image-2025-10-28-at-08.35.04-1536x864.jpeg 1536w, https://www.ybhk.or.id/wp-content/uploads/2025/10/WhatsApp-Image-2025-10-28-at-08.35.04.jpeg 1599w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Banyak diantara kita yang tak banyak mengetahui tentang kisah seputar peristiwa Soempah Pemoeda yang menjadi cikal bakal keberadaan “Indonesia”. Sebab, sesungguhnya term baku tentang nama “Indonesia” itu tak pernah ada sebelum peristiwa Sumpah Pemuda yang bersejarah itu. Sebelumnya, nama wilayah dari Pulau Sumatra (Sabang) sampai Papua (Merauke) masih kerap disebut wilayah “Nusantara” dengan kepelbagaian suku, bangsa, ras dan lainnya.</p>



<p>Penyebutan ‘Indonesia’ atau ke-Indonesiaan kita sebagai satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa yaitu, Indonesia baru ‘autentik’ setelah Kongres Pemuda II.</p>



<p>Dengan dan melalui Kongres Pemuda ke-II yang berlangsung selama dua hari (27-28 Oktober 1928) itu, para pemuda dari berbagai wilayah yang hadir sepakat mendeklarasikan tiga buah ‘sumpah’ dan kemudian menjadi tonggak sejarah ‘penyatuan’ berbagai tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia. Selamat membaca!</p>



<p>Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, dimana pada waktu itu diadakan Kongres Pemuda II. Dalam Kongres itulah, para pemuda dari berbagai wilayah Indonesia mengikrarkan “bertoempah darah jang satoe – tanah Indonesia”, “berbangsa jang satoe – bangsa Indonesia” dan “mendjoendjoeng bahasa persatoean – bahasa Indonesia”. Kongres Pemuda II tersebut kemudiaan dikenal sebagai Soepah Pemoeda.</p>



<p>Dua tahun sebelumnya, yakni pada 1926 memang telah ada upaya untuk mempersatukan organisasi-organisasi pemuda ketika diadakan Kongres Pemuda I.</p>



<p>Demikian pula pada tanggal 20 Februari 1927, telah diadakan pertemuan, namun masih dalam tahap awal dan belum final. Dan akhirnya, Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) menjadi penggagas Kongres Pemuda II.</p>



<p>Selanjutnya, pada tanggal 3 Mei 1928 diadakan kembali pertemuan untuk persiapan Kongres Pemuda II, dan kemudian dilanjutkan pada tanggal 12 Agustus 1928.</p>



<p>Dalam pertemuan tanggal 12 Agustus 1928 itu, perwakilan dari semua organisasi pemuda hadir dan diambil keputusan bersama untuk segera mengadakan Kongres II yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari yaitu pada 27 -28 Oktober 1928.</p>



<p>Adapun susuna panitia pelaksana Kongres II adalah seperti berikut: Ketua: Soegondo Djojopoespito (PPI). Wakil Ketua: R.M. Djoko Marsaid (Jong Java). Sekretaris: Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond). Bendahara: Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond). Pembantu I: Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond). Pembantu II: R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia). Pembantu III: Senduk (Jong Celebes). Pembantu IV: Johanes Leimena (Jong Ambon). Pembantu V: Rochjani Soe’oed (Pemoeda Kaoem Betawi).</p>



<p>Dalam pelaksanaan Kongres II itu, dilakukan dalam tiga kali (3) rapat dengan tempat yang berbeda-beda yaitu:</p>



<p>Pertama, rapat Kongres yang diadakan pada hari Sabtu, 27 Oktober 1928 (hari pertama) yang berlangsung di kompleks dekat gedung Gereja Katedral yang saat itu sering disebut gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB)-Waterlooplein (sekarang: Lapangan Banteng).</p>



<p>Isi dari pertemuan tersebut adalah bahwa Kongres yang diadakan dapat memperkuat persatuan para pemuda. Dalam pertemuan itu, Muhammad Yamin menguraikan tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia, yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.</p>



<p>Kedua, rapat Kongres yang diadakan pada hari Minggu, 28 Oktober 1928 (hari kedua) yang belangsung di Gedung Oost-Java Bioscoop. (sekarang: gedung tersebut sudah tidak ada lagi, namun posisi gedungnya diperkirakan terletak di Jl. Merdeka Utara, tidak jauh dari sitana Negara dan Mahkamah Agung RI). Dalam rapat tersebut, dibahas tentang masalah pendidikan.</p>



<p>Pada kesempatan itu ada dua orang yang bertindak sebagai pembicara yakni, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro. Mereka berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, perlu adanya keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah, dan anak harus dididik secara demokratis.</p>



<p>Ketiga, rapat penutupan Kongres diadakan di gedung Indonesische Clubgebouw atau Indonesisch Huis Kramat di Jalan Kramat Raya Nomor 106 (sekarang: menjadi Museum Sumpah Pemuda).</p>



<p>Pada rapat tersebut, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi, selain gerakan kepanduan. Sementara itu, Ramelan mengemukakan bahwa gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, sebab hal itulah yang dibutuhkan dalam perjuangan.</p>



<p>Adapun para peserta yang hadir dalam Kongres II tersebut, berasal dari berbagai perwakilan organisasi pemuda, yakni: Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, Aitai Karubaba dan Poreu Ohee (Perwakilan dari Papua), Kwee Thiam Hiong (Jong Sumatranen Bond), dll.</p>



<p>Wage Rudolf Soepratman memperdengarkan lagu ‘Indonesia Raya’ hasil karyanya sebelum Kongres ditutup. Pada kesempatan tersebut WR. Soepratman hanya memainkan biola saja tanpa syair (musik instrument). Hal ini dilakukan atas saran ketua panitia Kongres. Tidak dinyanyikannya syair lagu Indonesia Raya tersebut, dengan pertimbangan karena intel-intel peerintahah Belanda selalu mengawasi jalannya Kongres.</p>



<p>Lagu yang dibawakan oleh WR Soepratman tersebut, disambut dengan meriah oleh peserta Kongres. Setelah Kongres itu, hasil rumusan penting (sari pati) dari Kongres II, diumumkan dan para pemuda yang hadir mengucapkan rumusan tersebut sebagai ‘Sumpah Setia’.</p>



<p>Gedung di Jalan Kramat Raya Nomor 106, tempat dibacakan Sumpah Pemuda, adalah sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong.</p>



<p>Pada tanggal 3 April 1973 Gedung di Kramat 106 itu, sempat dipugar oleh Pemda DKI Jakarta. Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta masa itu, meresmikannya sebagai Gedung Sumpah Pemuda pada tanggal 20 Mei 1973. Dan pada tanggal 20 Mei 1974, Presiden Soeharto meresmikan kembali gedung tersebut.</p>



<p>Berikut ini ada beberapa tokoh yang berperan penting dan menonjol dalam Kongres Pemuda II, antara lain sbb:</p>



<p>1. Soegondo Djojopoespito. Sugondo Djojopuspito lahir di Tuban-Jawa Timur, 22 Februari 1905. Pada tahun 1925, Soegondo Djojopoepito lulus dari AMS. Ketika masih duduk di pendidikan menengah MULO, ia pernah satu atap dengan Ir. Soekarno di pondok milik HOS Cokroaminoto. Soegondo terpilih menjadi Ketua atas persetujuan Drs. Mohammad Hatta sebagai ketua PPI di Negeri Belanda dan Ir. Soekarno di Bandung. Selain Soegondo, kandikat lainnya adalah pemuda bernama Mohammad Yamin.</p>



<p>Figur Sugondo ini memang namanya sangat asing dan hampir tidak pernah diceritakan dalam tulisan-tulisan sejarah, bahkan di buku pelajaran sekolah. Padahal Soegondo Djojopoespito mempunyai peran besar dalam Kongres Pemuda I dan Kongres Pemuda II.</p>



<p>Pada tahun 1926, ia ikut serta dalam kegiatan Kongres Pemuda I dan menjadi Ketua Panitia Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Kemudian ia melanjutkan kuliah di Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di Batavia).</p>



<p>Ketika pada masa kuliah, Soegondo menumpang di rumah seorang pegawai pos di gang Rijksman, sehingga lingkaran pertemanan Soegondo, ada dalam lingkungan para pegawai pos. Melalui pertemanan tersebut ia mengenal Perhimpunan Indonesia, sebuah organisasi yang dinyatakan ‘dilarang’ oleh pemerintah Belanda.</p>



<p>Organisasi pemuda Indonesia itu berpusat di negeri Belanda. Ia mengenal organisasi tersebut melalui majalah “Indonesia Merdeka” yang diterbitkan oleh Perhimpunan Indonesia, yang diberikan kepada salah seorang pegawai pos. Setelah membaca majalah tersebut, pikiran Soegondo semakin terbuka. Ia menyadari betapa pentingnya meraih sebuah kemerdekaan.</p>



<p>Sebagai tindakan awal, ia belajar dan berdiskusi mengenai politik dengan Hj. Agus Salim. Ia menghubungi teman-temannya untuk datang dan membaca ‘majalah terlarang’ tersebut dan berdiskusi di pemondokannya. Ada beberapa temannya yakni, Soewirjo dan Usman Sastroamidjojo, adik Ali Sastroamidjojo.</p>



<p>Soegondo, memiliki rasa nasionalisme yang besar sehingga ia bergabung dengan Persatuan Pemuda Indonesia (PPI), meskipun banyak pemuda lainnya lebih berminat bergabung di dalam organisasi kedaerahan. Ia masuk organisasi Persatuan Pemuda Indonesia dan tidak masuk dalam Jong Java.</p>



<p>Pada tahun 1926, Soegondo membentuk Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI), terinspirasi oleh Perhimpunan Indonesia di Belanda. Pada waktu itu, Sigit terpilih sebagai ketuanya. Tujuan organisasi tersebut adalah untuk menghubungi mahasiswa-mahasiswa baru dan pemimpin perkumpulan pemuda dalam rangka menularkan semangat persatuan.</p>



<p>Mereka membuat pamflet rahasia untuk menggulingkan pemerintahan Belanda di Indonesia. Setelah setahun berselang, masa jabatan Sigit berakhir dan digantikan oleh Soegondo. Sebagai ketua baru, ia mengundang wakil-wakil perkumpulan pemuda, lalu membentuk panitia kongres pada bulan Juni 1928.</p>



<p>Sugondo Djojopuspito meninggal dunia di Yogyakarta tanggal, 23 April 1978 pada usia 73 tahun. Atas jasanya dalam menginisiasi Kongres Pemuda, maka Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1978 memberikan Tanda Kehormatan kepada Soegondo, berupa Bintang Jasa Utama.</p>



<p>Pada tahun 1992, ia mendapat Satya Lencana Perintis Kemerdekaan. Kemenpora, mengabadikan namanya pada Gedung Pertemuan Pemuda sebagai Wisma Soegondo Djojopoespito di Cibubur, milik Pusat Pemberdayaan Pemuda dan Olahraga Nasional (PP-PON) yang diresmikan pada tanggal 18 Juli 2012.</p>



<p>2. Prof. Mr. Mohammad Yamin, SH. Mohammad Yamin, lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, 24 Agustus 1903. Ia pertama kali muncul pada tahun 1922 sebagai penyair, dengan judul puisinya “Tanah Air”. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Minangkabau di Sumatera.</p>



<p>Puisi tersebut adalah puisi modern Melayu yang pertama, yang pernah diterbitkan. Puisi keduanya berjudul “Tumpah Darahku”, yang muncul pada 28 Oktober 1928. Ketika Konggres Pemuda II 1928 diadakan, Mohammad Yamin merupakan salah satu kandidat Ketua Panitia Kongres II, namun yang terpilih adalah Soegondo Djojopoespito.</p>



<p>Saat itu, Kongres Pemuda membutuhkan figur ketua yang ‘netral’. Karena Mohammad Yamin masuk dalam Jong Sumatranen Bond. Maka, Soegondo dipilih sebagai Ketua dan Mohammad Yamin diangkat menjadi Sekretaris.</p>



<p>Pada kesempatan itu, notulen ditulis dalam bahasa Belanda. Pada sesi terakhir Kongres Pemuda II, Soenario, perwakilan dari kepanduan (sekarang Pramuka) berpidato. Pada waktu itu, M. Yamin yang duduk di sebelah Soegondo menyodorkan secarik kertas kepada Soegondo seraya berbisik, “Ik heb een elganter formuleren voor de resolutie” (saya mempunyai rumusan resolusi yang lebih luwes), ujar Yamin.</p>



<p>Di dalam secarik kertas itu, tertulis tiga frasa yang kemudian dikenal sebagai trilogi Sumpah Pemuda, yaitu: “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa”. Selanjutnya, Soegondo memberi paraf pada secarik kertas itu yang artinya menyatakan setuju, dan diikuti oleh anggota lainnya yang juga menyatakan tanda setuju. Akhirnya, ikrar Sumpah Pemuda dibacakan oleh Soegondo dan diikuti oleh semua peserta Kongres.</p>



<p>Mohammad Yamin, meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 17 Oktober 1962 dalam usia 59 tahun.</p>



<p>3. Wage Rudolf Soepratman. Wage Rudolf Supratman, lahir di Somongari-Purworejo, 9 Maret 1903. Ia salah seorang pahlawan yang beragama Kristen Katolik. Dalam Kongres Pemuda II, pemuda yang akrab sisapa WR. Soepratman menghampiri Ketua panitia Kongres dengan membisikkan sesuatu. Ia meminta izin pada Ketua Panitia Kongres agar diperbolehkan memperdengarkan lagu ciptaannya, yang berjudul “Indonesia Raya”.</p>



<p>Karena Kongres dijaga oleh Polisi Hindia Belanda, maka Soegondo sebagai Ketua Panitia Kongres tidak menginginkan Kongres itu dibubarkan atau peserta ditangkap oleh Polisi Belanda. Maka, Soegondo berbisik kepada WR. Supratman agar memperdengarkan lagu Indonesia Raya itu cukup dengan instrument biolanya saja.</p>



<p>4.&nbsp; Soenario Sastrowardoyo. Prof. Mr.Soenario Sastrowardojo lahir di Madiun-Jawa Timur, pada 28 Agustus 1902. Ia adalah salah satu tokoh Indonesia pada masa pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai pengurus Perhimpunan Indonesia di Belanda.</p>



<p>Soenario adalah salah satu tokoh yang berperan aktif dalam dua peristiwa yang menjadi tonggak sejarah nasional, yaitu Manifesto 1925 dan Kongres Pemuda II. Ketika Manifesto 1925 dicetuskan, ia menjadi pengurus Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging, kelak berganti nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpunan Indonesia) bersama Drs. M. Hatta. Soenario menjadi Sekretaris II, dan M. Hatta menjadi bendahara I. Pada akhir Desember 1925, ia meraih gelar Meester in de Rechten (Mr), lalu pulang ke Indonesia.</p>



<p>Ia mempunyai pengalaman yang cukup banyak di Belanda. Ia aktif sebagai pengacara, sehingga ia membela para aktivis pergerakan yang berurusan dengan polisi Hindia Belanda. Selain itu, ia mempunyai pengalaman berorganisasi, sehingga ia turut membantu sebagai Penasihat pada Kongres Pemuda II. Selain menjadi penasihat, Soenario juga menjadi pembicara dalam Kongres. Judul makalahnya adalah “Pergerakan Pemuda dan Persatuan Indonesia”.</p>



<p>Sumpah Pemuda membawa dampak bagi perjuangan bangsa Indonesia. Begitu juga bagi kehidupan Soenario. Soenario yang beragama Islam, jatuh cinta dan akhirnya menikahi gadis Minahasa beragama Kristen Protestan yang ditemuinya saat pelaksanaan Kongres Pemuda II (1928). Pada tahun 1956-1961, ia menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Inggris.</p>



<p>Tidak hanya itu, ia pun diangkat sebagai guru besar politik dan hukum internasional, lalu menjadi Rektor Universitas Diponegoro-Semarang dari tahun 1963-1966. Pada tahun 1960-1972, ia menjadi Rektor IAIN Al-Jami’ah Al-Islamiyah Al-Hukumiyah, yang merupakan cikal bakal UIN Sunan Kalijaga-Yogyakarta, serta UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta. Soenario meninggal dunia pada 18 Mei 1997 pada usia 94 tahun di RS Medistra-Jakarta, sedangkan istrinya meninggal pada 1994.</p>



<p>5.&nbsp; Sie Kong Liong. Sie Kong Liong adalah salah satu nama yang mungkin masih asing di telinga public Indonesia. Ia tidak popular seperti tokoh-tokoh lain, bahkan mungkin tidak pernah tercatat dalam buku-buku sejarah. Padahal, tanpa andil Sie Kong Liong, sejarah Sumpah Pemuda mungkin akan memiliki jalan cerita yang berbeda.</p>



<p>Betapa tidak, Sie Kong Liong adalah pemilik sebuah rumah di Jalan Kramat Raya Nomor 106, yang menjadi tempat pelaksanaan Kongres II (Sumpah Pemuda). Atas prakarsa Soenario, rumah milik Sie Kong Liong dipugar oleh Gubernur DKI kala itu, Ali Sadikin, dan ditetapkan menjadi Gedung Sumpah Pemuda sebelum akhirnya berubah nama menjadi Museum Sumpah Pemuda.</p>



<p>Pada akhirnya, Kongres Pemuda II yang diselenggarakan dua hari yaitu, 27-28 Oktober 1928 di Batavia itu, membuahkan hasil, yang menegaskan cita-cita akan adanya “Tanah Air Indonesia, Bangsa Indonesia, dan Bahasa Indonesia”. Saat itu, tiga isi Sumpah Pemuda yang merupakan Keputusan Kongres tersebut menjadi asas bagi setiap ‘perkumpulan kebangsaan Indonesia’ dan ‘disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan”.</p>



<p>6.&nbsp; Dr. Johannes Leimena. Johannes Leimena, lahir di Ambon-Maluku, 6 Maret 1905. Ia adalah salah satu pahlawan Indonesia. Ia satu-satunya orang yang pernah menjabat sebagai Menteri Kabinet Indonesia selama 21 tahun berturut-turut tanpa putus. Ia pernah masuk dalam 18 Kabinet yang berbeda, mulai dari Kabinet Sjahrir II (1946) sampai Kabinet Dwikora II (1966). Ia mengemban tugas sebagai Menteri Kesehatan, Wakil Perdana Menteri, Wakil Menteri Pertama maupun Menteri Sosial. Selain itu, ia menyandang pangkat Laksamana Madya (Tituler) di TNI-AL ketika ia menjadi anggota dari Komando Operasi Tertinggi (KOTI) dalam rangka Trikora.</p>



<p>Pada tahun 1926, Johannes Leimena ditugaskan untuk mempersiapkan Konferensi Pemuda Kristen di Bandung. Konferensi ini adalah perwujudan pertama Organisasi Oikumene di kalangan pemuda Kristen. Ia sudah aktif dalam organisasi sejak lulus studi kedokteran STOVIA. Ia mengikuti organisasi CSV, yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) pada tahun 1950. Ia aktif dalam Jong Ambon, sehingga ia ikut mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia pada 28 Oktober 1928, yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Dr. Johannes Leimena meninggal dunia di Jakarta, tanggal 29 Maret 1977 pada usia 72 tahun.</p>



<p>7.&nbsp;&nbsp; Djoko Marsaid. Djoko Marsaid adalah Wakil Ketua Panitia Kongres Pemuda II, dimana ia menjadi perwakilan dari Jong Java.</p>



<p>8. Mr. Amir Sjarifoeddin. Amir Sjarifoeddin Harahap (ejaan baru: Amir Syarifuddin Harahap) lahir di Medan, Sumatera Utara, 27 April 1907. Ia seorang penganut agama Kristen Protestan, meskipun ia berasal dari keluarga Batak yang beragama Islam, namun kemudian Amir pindah menganut agama Kristen Protestan pada tahun 1931. Ia pernah memberikan khotbah dalam Gereja Protestan terbesar di Batak yang ada di Batavia. Khotbah itulah yang menjadi salah satu bukti bahwa Amir sebagai penganut agama Kristen Protestan pada tahun 1931. Ia meninggal dunia di Surakarta, Jawa Tengah, 19 Desember 1948 pada usia 41 tahun.</p>



<p>9.&nbsp; Sarmidi Mangunsarkoro. Mangunsarkoro atau Ki Sarmidi Mangunsarkoro, lahir pada tanggal 23 Mei 1904. Ia mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1949 hingga tahun 1950. Pribadi Ki Sarmidi Mangunsarkoro seorang yang sederhana, dan berwawasan luas. Penampilan yang sangat sederhana, ia terapkan juga pada waktu menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu tidak mau bertempat tinggal di rumah dinas Menteri Kabinet. Ia meninggal dunia tanggal 8 Juni 1957 pada usia 53 tahun.</p>



<p>10. Mr. Kasman Singodimedjo. Kasman Singodimedjo, lahir di Poerworedjo-Jawa Tengah, 25 Februari 1904. Ia pernah menjadi Jaksa Agung Indonesia periode 1945 – 1946. Ia termasuk mantan Menteri Muda Kehakiman pada Kabinet Amir Sjarifuddin II. Pada tahun 1945-1950, Kasman Singodimedjo pernah mengemban tugas sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang menjadi cikal bakal dari DPR. Ia meninggal dunia di Jakarta, 25 Oktober 1982 pada usia 78 tahun.</p>



<p>11. Mohammad Roem. Mohammad Roem, lahir di Parakan-Temanggung, 16 Mei 1908. Pada masa Ir. Soekarno menjadi Presiden, ia menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Menteri Luar Negeri, dan Mendagri. Ia pernah mengambil bagian dalam Perjanjian Roem-Roijen selama revolusi Indonesia. Ia meninggal dunia di Jakarta, 24 September 1983 pada usia 75 tahun.</p>



<p>12. Dr. AK. Gani. Adnan Kapau Gani atau biasa disingkat AK. Gani, lahir di Palembayan Agam-Sumatera Barat pada 16 September 1905. Ia adalah seorang dokter dan politisi Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan Kabinet Amir Sjarifuddin II. Ia bergerak dalam organisasi Jong Sumatra Bond. Ia meninggal di Palembang-Sumatera Selatan pada 23 Desember 1968 pada usia 63 tahun.</p>



<p>Selanjutnya, perlu pula kita tahu 75 orang tokoh yang menjadi peserta dan mengikuti Kongres Pemuda II tanggal 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta), yaitu sbb: Abdul Muthalib Sangadji. Purnama Wulan. Abdul Rachman. Raden Soeharto. Abu Hanifah.</p>



<p>Raden Soekamso. Adnan Kapau Gani. Ramelan. Amir (Dienaren van Indie). Saerun (Keng Po). Anta Permana. Sahardjo. Anwari. Sarbini. Arnold Manonutu. Sarmidi Mangunsarkoro. Assaat. Sartono. Bahder Djohan. S.M. Kartosoewirjo. Dali. Setiawan. Darsa. Sigit (Indonesische Studieclub). Dien Pantouw. Siti Sundari. Djuanda. Sjahpuddin Latif. Dr. Pijper. Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken).</p>



<p>Emma Puradiredja. Soejono Djoenoed Poeponegoro. Halim. R.M. Djoko Marsaid. Hamami. Soekamto. Jo Tumbuhan. Soekmono. Joesoepadi. Soekowati (Volksraad). Jos Masdani. Soemanang. Kadir. Soemarto. Karto Menggolo. Soenario (PAPI &amp; INPO). Kasman Singodimedjo. Soerjadi. Koentjoro Poerbopranoto. Soewadji Prawirohardjo. Martakusuma. Soewirjo. Masmoen Rasid. Soeworo. Mohammad Ali Hanafiah. Suhara. Mohammad Nazif. Sujono (Volksraad).</p>



<p>Mohammad Roem. Sulaeman. Mohammad Tabrani. Suwarni. Mohammad Tamzil. Tjahij. Muhidin (Pasundan). Van der Plaas (Pemerintah Belanda). Mukarno. Wilopo. Muwardi. Wage Rudolf Soepratman. Nona Tumbel. Kwee Thiam Hong. Oey Kay Siang. John Lauw Tjoan Hok. Tjio Djien Kwie.</p>



<p>Itulah sekelumit kisah di balik peristiwa Sumpah Pemuda. Semoga bermanfaat. Salam Soempah Pemoeda dan Merdeka!!!</p>



<p>Editor: Detianus Gea</p>



<p>Referensi</p>



<p>[1] Bdk. Buku: Bernadus Barat Daya dan Silvester Detianus Gea “Mengenal Tokoh Katolik Indonesia: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional hingga Pejabat Negara”, Yakomindo, 2017.</p>
<p>The post <a href="https://www.ybhk.or.id/artikel/generasi-emas-2045-estafet-semangat-sumpah-pemuda/">Generasi Emas 2045: Estafet Semangat Sumpah Pemuda</a> appeared first on <a href="https://www.ybhk.or.id">Yayasan Bunda Hati Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Harus Memilih Sekolah-Sekolah Di YBHK</title>
		<link>https://www.ybhk.or.id/artikel/mengapa-harus-memilih-sekolah-sekolah-di-ybhk/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=mengapa-harus-memilih-sekolah-sekolah-di-ybhk</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Biro Pendidikan]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Jun 2022 16:47:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Core Value]]></category>
		<category><![CDATA[Katolik]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.ybhk.or.id/?p=3504</guid>

					<description><![CDATA[<p>Judul tulisan ini sangat menggelitik karena ditampilkan dalam bentuk sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang bertujuan meminta jawaban berupa penjelasan, menggali informasi, mengklarifikasi, dan mengonfirmasi tentang suatu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://www.ybhk.or.id/artikel/mengapa-harus-memilih-sekolah-sekolah-di-ybhk/">Mengapa Harus Memilih Sekolah-Sekolah Di YBHK</a> appeared first on <a href="https://www.ybhk.or.id">Yayasan Bunda Hati Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Judul tulisan ini sangat menggelitik karena ditampilkan dalam bentuk sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang bertujuan meminta jawaban berupa penjelasan, menggali informasi, mengklarifikasi, dan mengonfirmasi tentang suatu hal atau peristiwa. Jika demikian, sesungguhnya sudah dapat diprediksi apa isi tulisan ini sesungguhnya.</p>



<p>Yayasan Bunda Hati Kudus (YBHK) adalah sebuah lembaga pendidikan Katolik yang menaungi 20 sekolah dari jenjang TK sampai SMA. Sekolah-sekolah tersebut adalah TK-SD-SMP-SMA Tarsisius 1 di Petojo-Jakarta Pusat, TK-SD-SM-SMA Tarsisius 2 di Kebon Jeruk-Jakarta Barat, TK-SD-SMP-SMA Damai di Kampung Duri-Jakarta Barat, TK-SD-SMP-SMA Vianney di Rawa Buaya-Jakarta Barat, dan TK-SD-SMP-SMA Tarsisius Vireta di Pasar Kemis-Tangerang.</p>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="570" data-id="3509" src="https://www.ybhk.or.id/wp-content/uploads/2022/06/ybhk-sekolah-katolik-terbaik.jpg" alt="" class="wp-image-3509" srcset="https://www.ybhk.or.id/wp-content/uploads/2022/06/ybhk-sekolah-katolik-terbaik.jpg 1024w, https://www.ybhk.or.id/wp-content/uploads/2022/06/ybhk-sekolah-katolik-terbaik-300x167.jpg 300w, https://www.ybhk.or.id/wp-content/uploads/2022/06/ybhk-sekolah-katolik-terbaik-768x428.jpg 768w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="570" data-id="3513" src="https://www.ybhk.or.id/wp-content/uploads/2022/06/ybhk-sekolah-katolik.jpg" alt="" class="wp-image-3513" srcset="https://www.ybhk.or.id/wp-content/uploads/2022/06/ybhk-sekolah-katolik.jpg 1024w, https://www.ybhk.or.id/wp-content/uploads/2022/06/ybhk-sekolah-katolik-300x167.jpg 300w, https://www.ybhk.or.id/wp-content/uploads/2022/06/ybhk-sekolah-katolik-768x428.jpg 768w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</figure>



<p>Sebagai lembaga pendidikan Katolik, sekolah-sekolah di bawah naungan YBHK selalu lekat dengan Spiritualitas Katolik, yang mewarnai keseluruhan aktivitas pendidikan dan pembelajaran. YBHK adalah mega taman pendidikan tempat tumbuh, berkembang, dan mekarnya semua insan muda dari berbagai latar belakang, sehingga kelak diharapkan turut berperan aktif dalam merendai kehidupan bangsa dan dunia. Muara dari keseluruhan proses di dalam taman pendidikan YBHK adalah lahirnya generasi muda yang penuh kasih, ramah, peduli, disiplin, nasionalis, berwawasan global, serta bertanggung jawab terhadap keutuhan ciptaan Tuhan.</p>



<p>Visi-Misi dan <em>Core Value</em> YBHK adalah roh yang senantiasa terintegrasi sekaligus menggerakan seluruh aktivitas pendidikan dan pembelajaran di sekolah-sekolah YBHK. Artinya, seluruh aktivitas warga YBHK dalam konteks pendidikan dan pembelajaran merupakan pengejewantahan dari kedua komponen utama tersebut. Dengan demikian, setiap insan YBHK dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya selalu bergerak dalam derap, irama, suluh, dan pedoman yang sama.</p>



<p>Semua value dalam Visi-Misi dan <em>Core Value</em> YBHK yang sudah menjadi spirit bersama itu, pada tataran implementasi diwujudkan dalam bentuk tindakan atau aksi nyata yang bersifat segera dengan skala prioritas. Tindakan atau aksi nyata yang bisa dilihat, dialami, dan dirasakan dampak serta manfaatnya bagi para stakeholder, baik internal maupun eksternal. Semuanya telah dilakukan secara konsisten dan terus-menerus. YBHK tidak dapat menyebutkan berbagai aksi nyata yang telah dilakukan, baik dalam bidang layanan pendidikan dan pembelajaran, pengembangan dan inovasi, maupun dalam bidang sosial- karitatif. Biarlah semua mozaik itu menjadi bukti sejarah yang akan turut bersaksi sekaligus mewarnai sejarah panjang perjalanan YBHK dalam dunia pendidikan hingga saat ini, untuk menabur benih-benih kebaikan. Benih-benih kebaikan yang terbungkus dalam paket layanan pendidikan dan pembelajaran, guna mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus memanusiakan manusia, agar lebih peka, peduli, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan ini. So….Anda sungguh beruntung memilih bersekolah di YBHK!</p>



<p>Penulis: Yoakim Deko Lamablawa</p>
<p>The post <a href="https://www.ybhk.or.id/artikel/mengapa-harus-memilih-sekolah-sekolah-di-ybhk/">Mengapa Harus Memilih Sekolah-Sekolah Di YBHK</a> appeared first on <a href="https://www.ybhk.or.id">Yayasan Bunda Hati Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kerangka Kerja Kompetensi TIK Guru Menurut UNESCO</title>
		<link>https://www.ybhk.or.id/artikel/kerangka-kerja-kompetensi-tik-guru-menurut-unesco/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kerangka-kerja-kompetensi-tik-guru-menurut-unesco</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Oct 2019 01:37:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Kompetensi Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Kompetensi TIK]]></category>
		<category><![CDATA[Kurikulum]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Pedagogi]]></category>
		<category><![CDATA[UNESCO]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.ybhk.or.id/?p=2337</guid>

					<description><![CDATA[<p>UNESCO (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB) telah membuat Kerangka Kerja Kompetensi TIK untuk Guru dalam dokumen ICT Competency Framework for Teachers (ICT CFT). ICT [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://www.ybhk.or.id/artikel/kerangka-kerja-kompetensi-tik-guru-menurut-unesco/">Kerangka Kerja Kompetensi TIK Guru Menurut UNESCO</a> appeared first on <a href="https://www.ybhk.or.id">Yayasan Bunda Hati Kudus</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-drop-cap">UNESCO (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB) telah membuat Kerangka Kerja Kompetensi TIK untuk Guru dalam dokumen ICT Competency Framework for Teachers (ICT CFT). ICT CFT adalah suatu kerangka kerja yang mencantumkan kompetensi yang diperlukan oleh guru untuk mengintegrasikan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam kegiatan belajar mengajar dan praktek profesional guru. ICT Competency Framework for Teachers ini bertujuan untuk membantu negara-negara dalam mengembangkan kebijakan dan standar kompetensi TIK guru nasional yang komprehensif, dan harus dilihat sebagai komponen penting dari TIK secara keseluruhan dalam Master Plan Pendidikan. Versi saat ini dari ICT Competency Framework for Teachers adalah versi 3 (ICT CFT 2016 yang merupakan update dari ICT CFT 2011), dan merupakan hasil dari kemitraan antara UNESCO, CISCO, INTEL, ISTE dan Microsoft. Dalam versi ini, kerangka telah diperkaya berdasarkan umpan balik dari para ahli materi pelajaran dan pengguna di seluruh dunia, dan ditingkatkan dengan masuknya contoh silabus dan spesifikasi ujian Literasi Teknologi dan Pendalaman Pengetahuan. ICT CFT Versi 3 menanggapi Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan, yang diadopsi oleh Majelis Umum PBB, yang menggarisbawahi perubahan global yang lazim menuju pembangunan Masyarakat Pengetahuan inklusif. Kompetensi TIK guru ini adalah untuk semua guru secara umum dalam kaitannya dengan TIK, bukan guru mata pelajaran tertentu (kompetensi TIK Guru tidak sama dengan kompetensi Guru TIK).</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://www.ybhk.or.id/wp-content/uploads/2019/10/ictcftv3-965x1024.png" alt="The UNESCO ICT Competency Framework for Teachers (ICT-CFT)" class="wp-image-2504" width="483" height="512" srcset="https://www.ybhk.or.id/wp-content/uploads/2019/10/ictcftv3-965x1024.png 965w, https://www.ybhk.or.id/wp-content/uploads/2019/10/ictcftv3-283x300.png 283w, https://www.ybhk.or.id/wp-content/uploads/2019/10/ictcftv3-768x815.png 768w, https://www.ybhk.or.id/wp-content/uploads/2019/10/ictcftv3.png 1300w" sizes="auto, (max-width: 483px) 100vw, 483px" /><figcaption>The UNESCO ICT Competency Framework for Teachers (ICT-CFT)</figcaption></figure></div>



<p>Menurut UNESCO, Kompetensi TIK guru dapat dikelompokkan ke dalam enam aspek, yaitu: 1. Pemahaman TIK dalam pendidikan, 2. Kurikulum dan Penilaian, 3. Pedagogi, 4. Teknologi Informasi dan Komunikasi, 5. Organisasi dan Administrasi, dan 6. Pembelajaran Guru Profesional.</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Aspek Pemahaman TIK dalam pendidikan meliputi pemahaman guru terhadap kebijkan pemerintah dalam pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan, sehingga guru mampu menerjemahkan kebikan tersebut ke dalam praktek aktivitas pembelajaran.</li><li>Aspek Kurikulum dan Penilaian meliputi kompetensi guru dalam pemanfaatan TIK dalam hal pengembangan kurikulum, pengelolaan lingkungan belajar, pengelolaan pengalaman belajar siswa, penilaian dan pengukuran, serta pemanfaatan TIK untuk peserta didik berkebutuhan khusus.</li><li>Aspek Pedagogi meliputi pemanfaatan TIK dalam hal perencanaan dan penyusunan strategi pembelajaran, pengembangan pembelajaran aneka sumber, pembelajaran berbasis masalah, serta komunikasi dan kolaborasi.</li><li>Aspek Teknologi Informasi dan Komunikasi meliputi kompetensi guru dalam penggunaan piranti TIK, baik pemanfaatan multimedia, internet, media audio visual untuk pembelajaran ataupun TIK sebagai penunjang administrasi pembelajaran.</li><li>Aspek Organisasi dan Administrasi meliputi integrasi TIK dalam pembelajaran, pengelolaan pembelajaran berbantuan TIK, serta pemahaman tentang etika dalam pemanfaatan TIK.</li><li>Aspek Pembelajaran Guru Profesional meliputi kemampuan guru dalam memanfaatkan TIK untuk pengembangan diri, partisipasi dan kontribusi dalam forum profesi, serta memanfaatkan TIK sebagai sarana riset dan pengembangan professional.</li></ol>



<p><br>Kompetensi TIK Guru berdasarkan kerangka ICT CFT menurut UNESCO terdiri dari tiga tingkat kemampuan, yaitu 1. Literasi Teknologi, 2. Pendalaman Pengetahuan, dan 3. Kreasi Pengetahuan. Tingkatan Kemampuan TIK guru dalam Literasi teknologi, Pendalaman pengetahuan, dan Kreasi pengetahuan untuk setiap aspek kompetensi dijelaskan sebagai berikut:</p>



<p><strong>Literasi Teknologi</strong> adalah kompetensi dasar TIK guru dalam memanfaatkan TIK untuk menyiapkan siswa agar mampu menguasai teknologi baru sebagai bekal bagi diri siswa dalam mengembangkan dirinya sebagai pembelajar sepanjang hayat. Kompetensi ini merupakan tahapan dasar yang akan mendorong dan memfasilitasi siswa menggunakan teknologi baru serta tahapan yang membutuhkan perubahan kebijakan yang paling mendasar. Tahapan ini fokus pada pengembangan literasi teknologi guru untuk mengintegrasikan peralatan TIK ke dalam kurikulum. Literasi teknologi ini mempersyaratkan fokus pada distribusi yang merata untuk memungkinkan perluasan akses yang mengurangi kesenjangan digital (digital divide) serta lebih menjamin keberhasilan ketiga tahapan dalam pengembangan pendidikan. Hasil akhir tahap literasi ini adalah guru kompeten dalam memanfaatkan TIK dalam pembelajaran untuk memberdayakan siswa agar mampu menguasai teknologi baru sebagai bekal bagi diri siswa dalam mengembangkan dirinya sebagai pembelajar sepanjang hayat. Contoh di bawah ini menunjukkan pendekatan literasi teknologi pada setiap aspek kompetensi yang akan terlihat dalam praktek.</p>



<figure class="wp-block-table"><table class=""><tbody><tr><td>ASPEK</td><td>KEMAMPUAN LITERASI TEKNOLOGI</td></tr><tr><td>Pemahaman TIK dalam pendidikan</td><td>Seorang guru bahasa daerah memahami prinsip-prinsip dasar menggunakan ICT dalam mengajar, sehingga ia mempertimbangkan bagaimana menggunakan papan tulis interaktif yang baru dipasang di kelasnya. Sampai sekarang, dia hanya menggunakannya sebagai layar proyektor.</td></tr><tr><td>Kurikulum dan Penilaian</td><td>Guru menyadari bahwa menggunakan pengolah kata pada papan tulis interaktif akan menawarkan pendekatan baru untuk salah satu keterampilan dasar dalam kurikulum &#8211; bagaimana meningkatkan kata-kata kalimat. Pengolahan kata juga dapat digunakan untuk penilaian formatif.</td></tr><tr><td>Pedagogi</td><td>Menggunakan aplikasi pengolah kata, guru menampilkan pada papan tulis interaktif beberapa contoh penulisan yang salah. Dia menunjukkan dengan sedikit perubahan dalam pilihan dan urutan kata-kata, sehingga kalimat dapat dibuat sederhana dan jelas. Seluruh kelas dapat melihat proses perubahan kalimat tersebut.</td></tr><tr><td>Teknologi Informasi dan Komunikasi</td><td>Awalnya, guru menggunakan aplikasi pengolah kata pada papan tulis interaktif saat melakukan diskusi kelas. Pada pelajaran berikutnya, setiap siswa menggunakan komputer laptop yang terkoneksi jaringan, sehingga guru dapat menampilkan pada papan tulis interaktif contoh menarik dari kalimat yang sudah diperbaiki. Seluruh siswa di kelas dapat membahas dan mengevaluasi susunan kata yang berbeda.</td></tr><tr><td>Organisasi dan Administrasi</td><td>Untuk pelajaran kedua, guru merencanakan sedemikian rupa sehingga siswa persis apa yang harus dilakukan, tanpa perlu pertanyaan atau diskusi. Guru menggunakan jaringan komputer sekolah, guru mencatat nilai siswanya pada file sentral yang guru-guru lain dan administrasi sekolah juga dapat mengakses.</td></tr><tr><td>Pembelajaran Guru Profesional</td><td>Guru mencari berbagai situs untuk guru bahasa daerah untuk menemukan sumber-sumber pengajaran keterampilan menulis, termasuk latihan dan tugas menulis, bahan stimulus dan ide-ide untuk pelajaran.</td></tr></tbody></table></figure>



<p><strong>Pendalaman Pengetahuan</strong> adalah kemampuan guru memanfaatkan TIK dalam pembelajaran untuk mendorong siswa mampu menerapkan pengetahuan dari mata pelajaran yang diterimanya untuk memecahkan permasalahan kompleks yang dihadapinya dalam lingkungan kerja dan masyarakat. Kompetensi ini lebih mendalam dan lebih memiliki dampak terhadap pembelajaran. Pendalaman pengeta-huan membutuhkan siswa sebagai pelaku untuk mengaplikasikan pengetahuan dalam rangka peningkatan keterampilan pemecahan masalah yang kompleks di lingkungan kerja. Hal ini akan menambah nilai terhadap pembangunan nasional, misalnya melalui inovasi yang menawarkan solusi terhadap tantangan nasional. Untuk mencapai pendekatan ini, pengembangan profesional guru harus fokus pada penyediaan pengetahuan dan keterampilan untuk memanfaatkan metodologi dan teknologi yang lebih kompleks. Perubahan dalam kurikulum harus menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di sekolah dengan masalahmasalah di dunia nyata, yang mungkin membutuhkan keterampilan kolaboratif siswa di tingkat lokal maupun global. Guru di sini merupakan pengelola atau fasilitator lingkungan pembelajaran. Kompetensi tahap pendalaman pengetahuan bertujuan agar guru mampu memanfaatkan TIK dalam pembelajaran untuk memberdayakan siswa sehingga mampu menerapkan pengatahuan dari mata pelajaran yang diterimanya untuk memecahkan permasalahan kompleks yang dihadapinya dalam lingkungan kerja dan masyarakat. Contoh di bawah ini menunjukkan pendekatan pendalaman pengetahuan pada setiap aspek kompetensi dalam praktek.</p>



<figure class="wp-block-table"><table class=""><tbody><tr><td>ASPEK</td><td>KEMAMPUAN PENDALAMAN PENGETAHUAN</td></tr><tr><td>Pemahaman TIK dalam pendidikan</td><td>Seorang guru pendidikan jasmani (Olah raga) menyadari bahwa banyak siswa yang tidak tertarik dalam latihan fisik dan tidak memahami pentingnya kebugaran fisik sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Dia berfikir bisa menggunakan TIK untuk mengubah sikap siswa dan membantu mereka menjadi lebih bugar, sehingga mengajukan anggaran rinci untuk administrasi sekolah, dan menjelaskan secara rinci mengapa TIK akan meningkatkan pelajaran olah raga dan membantu siswa belajar.</td></tr><tr><td>Kurikulum dan Penilaian</td><td>Guru menggunakan TIK pada isu-isu kesehatan yang sebelumnya tidak menarik perhatian siswa. Sekarang dia juga mampu untuk dimasukkan dalam kurikulum informasi tentang fisiologi manusia. Topik-topik ini sebelumnyaterlalu abstrak dan teoritis untuk dijelaskan dengan mudah, tapi sekarang ia mampu menunjukkan kepada siswa melalui simulasi komputer (video dan animasi) dari proses fisiologis yang membuat lebih mudah dimengerti. Guru juga mampu untuk melaksanakan penilaian formatif yang lebih efisien karena ia dapat merekam kinerja siswa di gym dengan kamera video digital. Dia menunjukkan rekaman video tersebut kepada siswa untuk membantu mereka memahami bagaimana mereka harus menggerakkan anggota badan. Siswa yang sebelumnya tidak bisa mengerti sekarang dapat melihat langsung apa yang harus mereka lakukan.</td></tr><tr><td>Pedagogi</td><td>Sebelumnya guru hanya berbicara kepada siswa tentang manfaat kesehatan, tapi sekarang ia mampu menunjukkan kepada siswa video acara olahraga dan musik, yang menampilkan kebugaran selebriti atletik. Dia kemudian mengatur siswa ke dalam kelompok kolaboratif untuk merancang penilaian kebugaran mereka sendiri, seperti melihat seberapa cepat detak jantung mereka kembali normal setelah latihan. Mereka menganalisis penilaian mereka, membuat spreadsheet kolaboratif untuk melacak kemajuan mereka selama bulan depan. Mereka berkomentar dan saling mendukung di situs jejaring sosial.</td></tr><tr><td>Teknologi Informasi dan Komunikasi</td><td>Guru mempunyai:<br> komputer laptop dan data proyektor sehingga semua siswa dapat melihatnya.<br> video klip dari Internet, simulasi dan animasi fisiologi manusia<br> perangkat data capture sederhanaseperti sensor denyut jantung yang merekam data secara langsung ke komputer<br> software spreadsheet untuk mencatat penilaian kebugaran siswa setiap minggu.<br> kamera video digital untuk merekam gerakan dan penggunaan peralatan fitness di gym.<br> Siswa juga menggunakan komputer di sekolah dan di rumah untuk mengakses berbagi spreadsheet dan situs jejaring sosial. Beberapa siswa menggunakan ponsel untuk mengirim program pencapaian kebugaran harian di situs jejaring. </td></tr><tr><td>Organisasi dan Administrasi</td><td>Guru memiliki laptop sendiri dan sebuah proyektor data di gym untuk menampilkan materi video, sehingga semua siswa dapat melihat klip video dari diri mereka sendiri di gym setidaknya sekali dalam setiap pelajaran atau untuk merekam hasil penilaian kebugaran mingguan mereka. Guru menggunakan laptop-nya untuk memantau entri spreadsheet kolaborasi siswa, dan posting di situs jejaring dan informasi tambahan pada program kebugaran.</td></tr><tr><td>Pembelajaran Guru Profesional</td><td>Guru secara teratur mengunjungi forum diskusi internet yang diselenggarakan oleh asosiasi profesional untuk guru olahraga. Forum ini merupakan sumber yang berguna untuk ide-ide baru tentang cara untuk mendapatkan siswa lebih tertarik pada olahraga.</td></tr></tbody></table></figure>



<p><strong>Kreasi Pengetahuan</strong> adalah kemampuan guru memanfaatkan TIK untuk mendorong siswa mampu meningkatkan produktivitas dengan senantiasa terlibat dalam penciptaan dan inovasi pengetahuan. Kompetensi ini merupakan yang paling kompleks karena melibatkan pelaku pendidikan yang terlibat dan dapat memperoleh manfaat dari proses kreasi pengetahuan, inovasi, dan partisipasi dalam pembelajaran seumur hidup. Perubahan kurikulum diharapkan dapat meningkatkan keterampilan kolaborasi, komunikasi, berpikir kreatif, inovasi, dan berpikir kritis. Guru dapat mencontohkan keterampilan ini kepada siswa-siswa mereka melalui pengembangan profesional yang mereka alami sendiri. Di sini guru dapat mengembangkan keterampilan yang lebih rumit dalam penggunaan teknologi dan keterampilan kolaborasi dengan rekan kerja untuk merancang pembelajaran berbasis proyek yang menantang bagi siswa. Berikut contoh pendekatan kreasi pengetahuan pada setiap aspek kompetensi yang terlihat dalam praktek.</p>



<figure class="wp-block-table"><table class=""><tbody><tr><td>ASPEK</td><td>KEMAMPUAN KREASI PENGETAHUAN</td></tr><tr><td>Pemahaman TIK dalam pendidikan</td><td>Seorang guru geografi mengatur proyek berbasis TIK bagi siswa dan bekerja sama dengan guru sejarah dan guru matematika. Proyek ini tentang kedatangan imigran dalam komunitas lokal dari negara yang mengalami gejolak politik dan ekonomi. Proyek ini melibatkan menyelidiki alasan imigrasi, dan memahami kondisi sehari-hari serta masalah yang dihadapi para imigran.</td></tr><tr><td>Kurikulum dan Penilaian</td><td>Proyek ini membahas tiga bagian kurikulum mata pelajaran: geografi (pertumbuhan dan perubahan di masyarakat), sejarah (sejarah negara dan hubungan dengan negara-negara terdekat) dan matematika (penggunaan grafik dan diagram untuk menganalisis dan menampilkan informasi statistik). Siswa memahami maksud dan tujuan proyek, menyusun rubrik penilaian yang akan mereka gunakan untuk menilai sendiri dan pekerjaan masingmasing, dengan bekerja sama dengan guru-guru mereka. Siswa menciptakan pengetahuan dalam setidaknya tiga cara:<br> Kreasi pengetahuan sejarah dan geografis baru tentang contoh imigrasi lokal (misalnya, fakta, angka, wawancara, cerita dan temuan lainnya).<br> Menemukan bahwa imigran mengalami kesulitan memperoleh makanan tradisional mereka. Pengetahuan komersial permintaan pasar akan diteruskan ke pemilik toko lokal.<br> Menemukan bahwa banyak prasangka lokal terhadap imigran didasarkan pada mitos dan misinformasi. Pengetahuan lokal dan pemahaman yang demikian meningkat, dan potensi konflik antara masyarakat berkurang. </td></tr><tr><td>Pedagogi</td><td>Guru bertindak sebagai pemantau dan pelatih, memastikan siswa memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan, memberi masukan tentang metode yang bisa digunakan, memastikan siswa tetap fokus pada tugas dan memenuhi tenggat waktu yang telah disepakati.</td></tr><tr><td>Teknologi Informasi dan Komunikasi</td><td>Siswa menggunakan:<br> Internet untuk memperoleh informasi latar belakang terperinci tentang kondisi di negara mereka, termasuk kontak email dengan siswa di sebuah sekolah di negara imigran.<br> program spreadsheet untuk menganalisis dan menampilkan statistik tentang emigrasi dan arus imigrasi, dan kondisi ekonomi yang terkait.<br> aplikasi grafis untuk membuat poster memasang di center setempat meminta relawan dari masyarakat imigran untuk diwawancarai untuk proyek tersebut.<br> kamera digital dan perekam audio membuat video atau rekaman wawancara dengan imigran tentang sejarah pribadi mereka dan pengalaman mereka di negara tuan rumah.<br> software pengolah kata untuk membuat catatan, menulis temuan dan mengevaluasi pekerjaan mereka.<br> perangkat lunak presentasi untuk membuat presentasi, termasuk klip video dan gambar diam, untuk menyajikan temuan mereka kepada orang lain. </td></tr><tr><td>Organisasi dan Administrasi</td><td>Guru menciptakan lingkungan pada sistem manajemen pembelajaran sekolah (jaringan komputer sekolah) yang memungkinkan siswa untuk menyimpan, berbagi dan mengembangkan pekerjaan mereka bersama-sama. Ini termasuk area untuk berbagi file, wiki dan forum diskusi.</td></tr><tr><td>Pembelajaran Guru Profesional</td><td>Para guru geografi teratur menunjukkan guru lain bagaimana proyek menggunakan TIK untuk memungkinkan siswa untuk menghasilkan pengetahuan sambil belajar pelajaran sekolah mereka. Dia juga menjelaskan kepada rekan-rekan bagaimana proyek, dan perannya sendiri di dalamnya, telah dikembangkan dan ditingkatkan dalam terang pengalaman dan eksperimen. Dengan cara ini, ia bertindak sebagai model pembelajar bagi para siswa dan rekan-rekannya.</td></tr></tbody></table></figure>



<p>Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah merumuskan kompetensi guru berupa empat kompetensi dasar guru yang termaktub dalam Permendiknas No 16 tahun 2007, yang terdiri dari empat domain, yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Standar Kompetensi (Kompetensi Inti) TIK Guru Kelas SD/MI, Guru Mata Pelajaran di SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK berdasarkan Permen tersebut adalah:</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Kompetensi Pedagogik No.5: Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran.</li><li>Kompetensi Profesional No.24: Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.</li></ul>



<p>Berkaitan dengan integrasi TIK dalam Kurikulum 2013 dengan pembelajaran berbasis TIK, maka Kompetensi TIK untuk pembelajaran merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan kompetensi guru, baik kompetensi pedagogi, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, maupun kompetensi sosial. Kompetensi TIK merupakan penguat untuk keempat domain kompetensi guru tersebut. Perhitungan saya, untuk mendukung integrasi TIK dalam pembelajaran di Kurikulum 2013 sepertinya akan ada Permen yang mengatur Standar Kompetensi TIK Guru Nasional.</p>



<p>TIK dapat mendukung reformasi pendidikan yang dibutuhkan. TIK dapat mendukung penyampaian pengembangan profesional guru melalui e-pembelajaran. Selain itu, TIK juga dapat mendukung penyediaan layanan informasi dan data tentang pendidik dan tenaga kependidikan yang mudah diakses untuk pengambilan keputusan rekrutmen serta mutasi guru. Pemanfaatan TIK yang diintegrasikan di dalam pembelajaran aktif juga dapat meningkatkan kapasitas mengajar guru seperti perencanaan pembelajaran serta penerapan pembelajaran aktif.</p>



<p>Referensi:</p>



<ul class="wp-block-list"><li>UNESCO ICT Competency Framework for Teachers. http://www.unesco.org/new/en/communication-and-information/resources/publications-and-communication-materials/publications/full-list/unesco-ict-competency-framework-for-teachers/</li><li>Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru</li></ul>



<p>Oleh: FX. Eko Budi Kristanto (Staf Teknisi YBHK)</p>
<p>The post <a href="https://www.ybhk.or.id/artikel/kerangka-kerja-kompetensi-tik-guru-menurut-unesco/">Kerangka Kerja Kompetensi TIK Guru Menurut UNESCO</a> appeared first on <a href="https://www.ybhk.or.id">Yayasan Bunda Hati Kudus</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
